Powered By Blogger

Jumat, 08 Juni 2012

makalah kurang kalori protein


BAB II
Kekurangan Kalori Protein (KKP)
              A.Pengertian Kekurangan Kalori Protein (KKP)
Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Selain untuk bertahan hidup, makanan juga berfungsi memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh akan zat-zat seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan zat-zat lain. Namun, di zaman yang sudah modern ini justru banyak orang yang tidak dapat memenuhi zat-zat tersebut.
Pada kali ini akan membahas secara khusus mengenai kekurangan kalori protein. Protein yang berasal dari kata protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Jika kita tidak mendapat asupan protein yang cukup dari makanan tersebut, maka kita akan mengalami kondisi malnutrisi energi protein.
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Secara umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP, yaitu penyakit yag diakibatkan kekurangan energi dan protein. KKP dapat juga diartikan sebagai keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Bergantung pada derajat kekurangan energy protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. Penyakit KKP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relative tidak jelas, hanya terlihatbahwa berat badananak tersebut lebih rendah disbanding anak seusianya. Kira-kira berat badannya hanya sekitar 60% sampai 80% dari berat badan ideal.
             
              B. Faktor Penyebab
Secara umum, masalah KKP disebabkan oleh beberapa factor, yang paling dominan adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimana pun KKP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.
Berikut beberapa faktor penyebabnya :
1. Faktor sosial. Yang dimaksud faktor sosial adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makana bergizi bagi pertumbuhan anak, sehingga banyak balita tidak mendapatkan makanan yang bergizi seimbang hanya diberi makan seadanya atau asal kenyang. Selain itu, hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan berlangsung turun-temurun dapat menjad hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
2. Kemiskinan. Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyababkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun sering kali tidak biasa terpenuhi apalagi tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
3. Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersedian bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit KKP.
4. Infeksi. Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada gilirannya akan mempermudah masuknya beragam penyakit. Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila faktor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya, ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, dan pentingnya sosialisasi makanan bergizi bagi balita serta faktor infeksi dan penyakit lain.
5. Pola makan. Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein atau asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan ibunya. Namun, bayi yang tidak memperoleh ASI protein dari suber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu, dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadinya kwashiorkor terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
6. Tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu mempengaruhi pola pengasuhan balita. Para ibu kurang mengerti makanan apa saja yang seharusnya menjadi asupan untuk anak-anak mereka.
7. Kurangnya pelayanan kesehatan, terutama imunisasi. Imunisasi yang merupakan bagian dari system imun mempengaruhi tingkat kesehatan bayi dan anak-anak.
             
             C. Klasifikasi Kekurangan Kalori Protein (KKP)
KKP dibagi menjadi dua jenis, yaitu kwashiorkor dan marasmus. Berikut adalah penjelasannya.
1. Kwashiorkor. Istilah kwashiorkor pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Cecily Williams pada tahun 1933 ketika ia menemukan keadaan ini di Ghana, Afrika. Dalam bahasa Ghana, kwashiorkor artinya penyakit yang diperoleh anak pertama, bila anak kedua sedang ditunggu kelahirannya. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake yang berlangsung kronis.
2. Marasmus. Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti wasting atau merusak. Merupakan bentuk malnutrisi kalori protein akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak dibawah kulit dan otot (Dorland, 1998:649). Marasmus juga diartikan sebagai malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau hygiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu atau lebih tanda defesiansi protein dan kalori (Nelson, 1999:212).

               D.Manifestasi Klinis
Beberapa gejala penyakit kwashiorkor adalah :
1. Banyak menangis
2. Bahkan pada stadium lanjut anak terlihat sangat pasif
3. Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring
4. Diare dengan fase cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi laktase dan enzim penting lainnya
5. Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia (pendarahan kecil yang timbul sebagai titik berwarna merah keunguan pada kulit maupun selaput lendir, Red), yang lama kelamaan kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini buasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya
6. Pembesaran hati, bahkan saat rebahan penbesaran ini diraba dari luar tubuh terasa licin dan kenyal
7. Gangguan fungsi ginjal dan anemia
8. Gagal untuk manambah berat badan
9. Pertumbuhan linear terhenti
10. Perubahan warna rambut menjadi kemerahan dan mudah dicabut
11. Penurunan massa otot
12. Perubahan mental seperti lethargia, irotabilitas, dan apatis dapat terjadi
13. Pada keadaan berat atau akhir (final stagaes) dapat mengakibatkan shock, koma, dan berakhir dengan kematian
14. Pada hasil pemeriksaan laboratorium terdapat hipoproteinemia, terutama pada albumin sehingga terjadi edema
Sedangkan gejala dari marasmus adalah
1. anak kurus hingga terlihat tulang berbungkus kulit
2. wajah seperti orangtua
3. perut cekung
4. kulit keriput, jaringan lemak subkuits sangat sedikit sampai tidak ada (pada daerah bokong tampak seperti memakai celana longgar)
5. cengeng dan rewel
6. iga gambang
7. diare kronik
8. sering disertai penyakit inspeksi (umumnya kronis berulang)

     E. Akibat Kekurangan Kalori Protein
Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah. Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan kwashiorkor pada anak-anak di bawah lima tahun. Akibat dari kwashiorkor dan marasmus sendiri, yaitu:
1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
2. Mudah terkena penyakit
3. Berkurangnya daya pikir
4. Penurunan fungsi otak
5. Ketidakseimbangan cairan elektrolit
6. Berkurangnya daya tahan tubuh
7. Bila tidak segera diobati berakhir dengan kematian

  F. Cara Menanggulangi KKP
KKP merupakan salah satu masalah serius yang sedang dihadapi Indonesia. Kita dapat berusaha agar KKP dapat dikuragi. Berikut adalah cara-cara pencegahannya :
1. Tingkat keluarga
a) Ibu membawa balita ke posyandu untuk ditimbang
b) Memberi ASI pada usia sampai enam bulan
c) Memberi maknan pendukung ASI yang mengandung berbagai gizi (kalori, vitamin, mineral)
d) Memberitahukan petugas kesehatan bila balita mengalami sakit
e) Menhindari pemberian makanan buatan kepada anak-anak untuk menggantikan ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI
f) Melindungi anak dari kemungkinan menderita diare dan dehidrasi dengan cara memelihara kebersihan, menggunakan air masak untuk minum, mencuci alat pembuat susu dan makanan bayi serta penyediaan oralit
g) Mengatur jarak kehamilan ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur makanan yang bergizi untuk buah hati mereka


2. Tingkat posyandu
a) Kader melakukan penimbangan pada balita setiap bulan di posyandu
b) Kader memberikan penyuluhan tentang makanan pendukung ASI (MP-ASI)
c) Kader memberikan pemulihan bayi balita yang berada di garis merah (PMT) contoh : KMS
d) Pemberian imunisasi untuk melindungi anak dari penyakit infeksi seperti TBC, polio dan ada pula beberapa imunisasi dasar, antara lain :
1) BCG
2) DPT
3) Polio
4) Hepatitis B3
5) Campak
3.Tingkat pengobatan
Prinsip pengobatan adalah pemberian makanan yang banyak mengandung protein bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan miniral. Makan tersebut dalam bentuk mudah cerna dan diserap, diberikan secara bertahap.
Dalam keadaan dehidrasi dan asidosis pedoman pemberian perenteral adalah sebagai berikut:
1. Jumlah cairan adalah ; 200 ml / kgBB/ hari untuk kwasiorkor atau marasmus kwashiorkor.
2. 250 ml/kgBB/ hari untuk marasmus.
3. Makanan tinggi kalori tinggi protien 3,0-5,0 g/kgBB
4. Kalori 150-200 kkal/ kgBB/hari
5. Vitamin dan mineral , asam folat peroral 3x 5 mg/hari pada anak besar
6. KCL oral 75-150mg /kgBB/hari.
7. Bila hipoksia berikan KCL intravena 3-4 mg/KgBB/hari.

makalah kurang vitamin A





BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian vitamin A
     Vitamin  A merupakan suatu zat organik yang digunakan oleh tubuh untuk pemeliharaan epitel selaput lendir, ketajaman penglihatan dan pencegahan terjadinya infeksi. Vitamin A berperan dalam penglihatan membuat kita bisa melihat dalam cahaya redup, dan juga turut berperan memberi kekebalan tubuh.

B.Manfaat Vitamin A
    Vitamin A memegang peranan penting untuk pemeliharaan sel kornea dan epitel dari penglihatan, metabolisme umum dan proses reproduksi, membantu melindungi tubuh terhadap kanker.

Untuk kesehatan jaringan tubuh, vitamin A mempercepat proses penyembuhan luka. Dalam kegiatan pertumbuhan dan perkembangan jaringan epitelial, vitamin A mempertahankan kesehatan dan struktur kulit, rambut dan gigi. Beberapa penyakit kulit seperti jerawat dan psoriasis adalah sebagai akibat kekurangan vitamin A.

Selanjutnya juga diketahui peranan vitamin A sebagai antioxidant, yang membantu merangsang dan memperkuat daya tahan tubuh dalam meningkatkan aktivitas sel pembunuh kuman (natural killer cell), memproduksi limfosit, fagositis dan antibody. Bahkan kegunaan vitamin A termasuk memperkuat kekebalan selular (sistem sel) yang menghancurkan sel kanker.

Selain itu vitamin A mencegah dan memperbaiki penciutan kelenjar timus (kelenjar utama yang berperan dalam sistem imun) yang terjadi sebagai akibat stress kronis. Fungsi tubuh lain yang dibantu oleh vitamin A antara lain adalah reproduksi, pembuatan dan aktivitas hormon adrenalin, pembuatan dan aktivitas hormon tyroid, mempertahankan struktur dan fungsi sel-sel saraf, menjaga kekebalan tubuh pada umumnya, serta memperbarui sel jaringan tubuh.

Manfaat vitamin A dalam tubuh mencakup 3 golongan besar yaitu :

a. Fungsi yang berkaitan dengan penglihatan
Vitamin A berperan sebagai retina (Retinene) yang merupakan komponen dari zat penglihatan Rhodopsin (zat yang dapat menerima rangsangan cahaya dan merubah energi cahaya menjadi energi biolistrik yang merangsang penglihatan).

b. Fungsi dalam metabolisme umum berkaitan dengan metabolisme protein
1. Integritas epitel
Pada defisisensi vitamin A terjadi gangguan struktur maupun fungsi epithelium, terutama yang berasal dari ektoderm. Epitel kulit menebal dan terjadi hyperkeratosis.
2. Pertumbuhan dan perkembangan
Pada defisiensi vitamin A terjadi hambatan pertumbuhan. Ini terjadi karena masalah dalam sintesa protein yaitu adanya hambatan absorbsi vitamin A dan karotin dikarenakan makanan yang rendah dalam kandungan lemak dan protein yang diperlukannya untuk metabolisme protein. Balita yang kekurangan vitamin A pertumbuhannya akan terganggu, balita terlihat kerdil dan kurus, juga mudah terserang penyakit seperti diare, campak, dan lain-lain.
3. Permeabilitas membran
Vitamin A berperan dalam mengatur permeabilitas membran maupun membran dari sub organik selular. Melalui pengaturan permeabilitas membrane sel vitamin A konsentrasi zat-zat gizi dalam sel yang dipergunakan untuk metabolisme sel.
4. Pertumbuhan gigi
Amenoblas yang membentuk email gigi sangat dipengaruhi oleh vitamin A.
5. Produksi hormone steroid
Pada defisiensi vitamin A terjadi hambatan pada sintesa hormon-hormon steroid.

c. Fungsi dalam proses reproduksi

Pada percobaan, defisiensi vitamin A dapat mengakibatkan kemandulan, pada percobaan in vitro dengan pemeliharaan jaringan ovaria dan testis terjadi hambatan perkembangan sel reproduksi. Sel ootid tidak padat berkembang menjadi sel ovum dan sel spermatid juga berkembang lebih jauh menjadi spermatozoa, sel tersebut berhenti berkembang dan menunjukkan degenerasi, kemudian diresorpsi.

Wanita yang kekurangan vitamin A mampu hamil, tetapi dengan resiko mudah terjadi keguguran dan kesulitan dalam melahirkan.

C.Faktor Penyebab Kekurangan Vitamin A
     Terjadinya kekurangan vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor dalam hubungan yang kompleks seperti halnya dengan masalah kekurangan kalori protein (KKP). Makanan yang rendah dalam vitamin A biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan hubungannya antara hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya kekurangan vitamin A.

Kekurangan vitamin A bisa disebabkan seorang anak kesulitan mengonsumsi vitamin A dalam jumlah yang banyak, kurangnya pengetahuan orangtua tentang peran vitamin A dan kemiskinan. Sedangkan untuk mendapatkan pangan yang difortifikasi bukan hal yang mudah bagi penduduk yang miskin. Karena, harga pangan yang difortifikasi lebih mahal daripada pangan yang tidak difortifikasi.

Beberapa penyakit yang mempengaruhi kemampuan usus dalam menyerap lemak dan vitamin  yang larut dalam lemak, meningkatkan resiko terjadinya kekurangan vitamin A. Penyakit tersebut adalah:
- Penyakit seliak,
- Fibrosa kistik,
- Penyumbatan saluran empedu.

Pembedahan pada usus atau pankreas juga akan memberikan efek kekurangan vitamin A. Bayi-bayi yang tidak mendapat ASI mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kekurangan vitamin A , karena ASI merupakan sumber vitamin A yang baik.

D.Gejala-gejala kekurangan vitamin A

Kekurangan vitamin A sering terjadi pada anak balita. Gejala yang sering mendapat perhatian adalah gangguan pada penglihatan anak, selanjutnya gangguan kesehatan lainnya dapat juga diidentifikasi sebagai akibat kekurangan Vitamin A.

Berikut adalah gejala dan tanda kekurangan vitamin A:
  • Gejala pertama dari kekurangan vitamin A biasanya adalah rabun senja. Kemudian akan timbul pengendapan berbusa (bintik Bitot) dalam bagian putih mata (sklera) dan kornea bisa mengeras dan membentuk jaringan parut (xeroftalmia), yang bisa menyebabkan kebutaan yang permanen.
  • Malnutrisi pada masa anak-anak (marasmus dan kwashiorkor), sering disertai dengan xeroftalmia; bukan karena kurangnya vitamin A dalam makanan, tetapi juga karena kekurangan kalori dan protein menghambat pengangkutan vitamin A.
  • Kulit dan lapisan paru-paru, usus dan saluran kemih bisa mengeras.
  • Kekurangan vitamin A juga menyebabkan peradangan kulit (dermatitis) dan meningkatkan kemungkinan terkena infeksi.
  • Beberapa penderita mengalami anemia.
  • Kulit menjadi kering, gatal dan kasar.
  • Rambut dapat terjadi kekeringan dan gangguan pertumbuhan rambut dan kuku.
  • Gangguan pertumbuhan pada anak-anak.

     E.Pencegahan dan Pengobatan
         Fortifikasi (penambahan zat gizi) vitamin A pada pangan merupakan solusi untuk mengatasi kekurangan vitamin A. Dengan fortifikasi, kandungan vitamin A suatu makanan bisa lebih tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan seseorang.
       Dalam makanan sumber hewani biasanya terdapat dalam bentuk retinol, yaitu bentuk aktif vitamin A hanya terdapat dalam pangan hewani. Pangan nabati mengandung karotenoid yang merupakan prekursor (provitamin) vitamin A. Beta karoten adalah bentuk provitamin A paling aktif.
      Vitamin  A banyak terdapat pada pepaya, labu, wortel, daun singkong, ubi jalar merah, daging ayam, hati, telur, minyak hati ikan, kuning telur, mentega, krim dan margarin yang telah diperkaya dengan vitamin A.
Provitamin A dapat diperoleh dari sayur-sayuran berdaun hijau gelap dan buah-buahan berwarna kuning atau merah serta minyak kelapa.
Sedangkan pangan yang rendah vitamin A antara lain ikan, susu, jagung, terung, buncis, pisang, semangka, apel, alpukat, belimbing.
Pemberian minyak kelapa sawit +/- 4 cc sehari pada anak-anak balita; terlihat bahwa frequensi deficiency vitamin A menurun dan serum vitamin A meningkat dengan nyata.
       Vitamin  A tahan terhadap panas cahaya dan alkali tetapi tidak tahan terhadap asam dan oksidasi. Pada cara memasak biasa tidak banyak vitamin A yang hilang. Suhu tinggi untuk menggoreng dapat merusak vitamin A,

        F.Kelebihan Vitamin A
           Kelebihan vitamin A dapat menyebabkan keracunan, baik itu terjadi pada satu kali pemberian (keracunan akut) ataupun dalam jangka waktu lama (keracunan kronis).
          Keracunan akut terjadi jika kita mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin A (misalnya hati beruang kutub atau hati anjing laut) secara berlebihan atau mengkonsumsi suplemen vitamin A secara berlebihan, gejalanya antara lain mudah ngantuk, mudah tersinggung, sakit kepala dan muntah dalam beberapa jam setelah memakannya.
          Keracunan kronis pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa biasanya merupakan akibat mengkonsumsi vitamin A dosis besar (10 kali dosis harian yang dianjurkan) selama berbulan-bulan. Keracunan vitamin A dapat terjadi pada bayi dalam beberapa minggu.

Gejala awal dari keracunan kronis adalah:
  • rambut yang jarang dan kasar,
  • kerontokan pada sebagian bulu mata,
  • bibir yang pecah-pecah,
  • kulit yang kering dan kasar.


Tanda-tanda jika kekurangan vitamin A terus berlanjut:
  • Sakit kepala hebat, peningkatan tekanan dalam otak dan kelemahan umum terjadi kemudian.
  • Pertumbuhan tulang dan nyeri sendi sering terjadi, terutama pada anak-anak.
  • Hati dan limfa dapat membesar.
  • Bayi yang lahir dari ibu yang mengkonsumsi isotretinoin (vitamin A buatan yang digunakan untuk mengobati kelainan kulit) selama kehamilan bisa memiliki cacat lahir.