Jumat, 18 Mei 2012

makalah diagnosa eliminasi fekal


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Elimnasi produk sisa pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh.perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada system gastrointestinal dan system tubuh lain nya,karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa factor,dan kebiasaan eliminasi bervariasi diantara individu.namun telah terbukti bahwa pengeluarn feses yang sering, dalam jumlah besar,dan karakteristik nya normal.biasanya berbanding lurus dengan rendah nya incident kanker kolorektal.

B.     Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum mengenai asuhan keperawatan eliminasi fecal.
2. Tujuan Khusus
a. Mempelajari diagnosa keperawatan eliminasi fecal .
b. Mempelajari perncanaan keperawatan eliminasi fecal
c. Mempelajari intervensi keperewatan eliminasi fecal.
d. Mempelajari evaluasi keperawatan eliminasi fecal.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Eliminasi Fecal
Eliminasi fecal adalah pembuangan sisa metabolism makanan dari dalam tubuh yang tidak di butuhkan lagi dalam bentuk feses.organ organ yang berperan dalam pembuangan eliminasi fecal adalah saluran gastrointestinal di mulai dari mulut sampai anus.

B. Organ organ yang berperan dalm eliminasi fecal .
Adalah sebagai berikut
Oral/Mulut ,Esofagus/Tenggorokan, Gaster/Lambung Usus halus, usus besar/kolon: 125-150cm (50 – 60 inc)
  • Usus Halus (Duadenum, Jejenun, Illeum)
  • Sekum – ileosekal (menghubungkan usus halus dan usus besar untuk mencegah regurgitasi.
  • Kolon (Asending, Transversum, Desending, Sigmoid).
  • Rektum: 10=15 cm (4-6 inchi), normalnya kosong sampai menjelang defekasi.
  • Anal/ onifisium eksternal (2, 5-5 cm/ 1-2 inci) mempunyai spingter: Internal (involunter) dan  Eksternal (volunteer)

1.Usus besar.
 Usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan/ absorpsi makanan bila isi usus halus mencapai sektum, maka semua zat makanan telah diabsorpsi dan isinya cair (disebut chime). Selama perjalanan di dalam kolon (16-20 jam) isinya menjadi makin padat karena air diabsorpsi dan sampai di rectum faeces bersifat padat – lunak.
Fungsi utama usus besar/kolon adalah:
- Absorpsi/penyerapan air, Na Cl dan glukosa yang dikeluarkan dari katup ileosekal berbentuk chime. Ada 1500 chyme melalui usus besar setiap hari.
- Protektif, oleh sekresi musin (ion karbonat) yang pengeluarannya dirangsang oleh nervus parasimpatis, seperti pada saat emosi sekresi mucus akan meningkat.
-Fungsi: Melindungi didnding usus dari aktifitas bakteri.
-Melindungi dari tarauma asam yang dihasilkan faeses.
- Eliminasi fekal (defekasi dan flatus). Falatus adalah udara besar yang dihasilkan dari pemecahan karbohidrat. Defekasi adalah pengeluaran faeses dari anus dan rectum. Frekuensi defekasi tergantung individu, bervariasi dan beberapa kali per hari sampai dengan 2-3 kali per minggu. Defekasi biasanya terjadi karena adanya reflek gastro-colika. Yaitu reflek peristaltic di dalam usus besar yang dihasilkan ketika makanan masuk lambung yang menyebabkan defekasi. Biasanyanya bekerja sesudah makan pagi.

2.Sususnan Faeces:
- Bakteri yang umumnya sudah mati.
- Lepasan epithelium dari usus.
- Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin.
- Garam, terutama kalsium fosfat.
- Sedikit zat besi, selulose.
- Sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml).

C. Faktor yang mempengaruhi eliminasi fekal:
1. Usia dan perkembangan : mempengaruhi karakter faeces, control bayi s/d 2-3 tahun: lambung kecil, enzim kurang, peristaltic usus cepat, neuromuskuler belum berkembang.
Remaja : usus besar berkembang.
Tua : gigi berkurang, enzim di saliva & lambung berkurang peristaltic dan tonus abdomen berkurang.


2. Diet
Makanan berserat dan berselulosa penting untuk mendukung volume fekal. Diet yang tidak teratur akan menggangu pola defekasi. Contoh makanan yang mengandung gas: bawang, kembang kol, dan kacang-kacangan. Susu: sulit dicerna bagi sebagian orang/ laktusa intolerance.
3. Pemasukan cairan. Normalnya: 2000-3000 ml/hari. Jika intake cairan tidak adekuat atau pengeluaran yang berlebihan (urin/muntah) tubuh akan kekurangan cairan sehingga tubuh akan menyerap cairan dari chime sehingga faeces yang dikeluarkan menjadi keras.
4. Aktifitas fisik: merangsang peristaltic meningkat.
5. Faktor psikologik.
Cemas, marah akan meningkatkan peristaltic/ diare. Depresi akan memperlambat peristaltic usus/ konstipasi.
6. Kebiasaan: sulit BAB di tempat orang lain atau tempat yang baru karena hilangnya privacy.
7. Posisi: jongkok/paha fleksi akan meningkatkan tekanan abdomen dan posisi duduk akan meningkatkan tekanan rectum, sehingga akan mempermudah defekasi.
8. Nyeri: hemoroid menyebabkan defekasi tidak nyaman dan akhirnya menjadi konstipasi.
9. Kehamilan: menekan rectum
10. Operasi dan anastesi: blok parasimpatis 24-48 jam akan menghentikan pergerakan usus (ileus paralitik)
11. Obat-obatan: narkotik, morfin, kodein menyebabkan konstipasi. Laksatif untuk menstimulasi eliminasi bowel.
12. Tes diagnostic: barium enema dapat menyebabkan kostipasi.
13. Kondisi patologi: injuri spinal cord/kepala dan gangguan mobilisasi, dapat menurunkan stimulasi sensori untuk defekasi. Buruknya fungsi spinal anal menyebabkan inkontinensia.
14. Irritans: makanan berbumbu/ pedas, toxin bakteri/racun dapat mengritasi usus dan menghasilkan diare/ banyak flatus.

D. Diagnosa Keperawatan pada Eliminasi Fecal.
Contoh diagnose Keperawata NANDA untuk masalah defekasi

Konstipasi yang berhubungan dengan
Ø  Imobilitas
Ø  Kurang privasi
Ø  Asupan cairan kurang adekuat

Konstipasi kolon yang berhubungan dengan
Ø  Asupan serat kurang adekuat
Ø  Asupan cairan kurang adekuat
Ø  Penggunaan obat dan enema yang berlangsung lama

Konstipasi di rasakan yang berhubungan dengan
Ø  Keyakinan/budaya keluarga tentang kesehatan
Ø  Ganguan proses piker.

Diare yang berhubungan dengan
Ø  Stress dan dan ansietas
Ø  Asupan diet.

Inkontinen defekasi berhubungan dengan
Ø  Keterlibatan neuromuscular
Ø  Depresi,ansietas berat.

DefiSit perawatan diri yang berhubungan dengan
Ø  Penurunan kekuatan dan daya tahan tubuh.
Ø  Intoleransi aktifitas


Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan
Ø  Inkonnentinenesia feses

Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan
Ø  Adanya ostomi
Ø  Inkonentesia feses.

1.DIAGNOSA KEPERAWATAN:
KONSTIPASI yang berhubungan dengan asupan diet berserat yang tidak adekuat dan terbatas nya asuapan cairan.

DEFINISI:
Konstipasi adalah suatu keadaan yang individu mengalami perubahan dalam kebiasaan normal defekasi yang karakteristik nya penurunan frekwensi defekasi atau keluarnya feses keras dan kering,(Kim,McFarland,Mclane).

TUJUAN:klien memahami dan menelan makanan dan cairan yang di butuhkan untuk meningkatkan pengeluaran feses yang lunak dan berbentuk.

HASIL YANG DI HARAP KAN:klien mendiskripsikan sumber makanan yang tinggi serat,klien menjelaskan asupan cairan normal untuk meningkatkan defekasi,klien menyapakan menu untuk 24 jam,termasuk makanan yang tinggi serat dan cairan.

INTERVENSI:
>intruksi klien untuk lebih banyak mengosumsi makanan yang menstimulasi peristaltic(gandum,roti,selada)
>Dan beriakan cairan 6 sampai 8 gelas (lebih baik jus jeruk)setiap hari.
>Dan dorong klien mengatakan komitmen nya untuk berupaya melakukan defekasi dalam 5 menit setelah merasakan keinginana untuk defekasi.

RASIONAL:
>makanan yang mengandung tinggi serat  meningkatkan peristaltic dan membatu mengerakan usus didalam saluran gastro intestinal.
>Asupan cairan adekuat membantu mempertahan kan materi feses tetap lunak.
>Reflek gastro kolik paling sensitive pada pagi hari dan setelah makan.
>Kontrak tentang prilaku antara klien dengan perawat memperlihatkan keberhasilan modifikasi prilaku,



2.DIAGNOSA KEPERAWATAN
 KOSTIPASI berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur
Tujuan: pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari)

HASIL YANG DI HARAPKAN
> Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari
>  Konsistensi feses lembut
>  Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan
INTERVENSI
  • Tentukan pola defekasi bagi klien dan latih klien untuk menjalankannya
  • Atiur waktu yang tepat untuk defekasi klien seperti sesudah makan
  • Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi
  • Berikan cairan jika tidak kontraindikasi 2-3 liter per hari
RASIONAL
>  Untuk mengembalikan keteraturan pola defekasi klien
>  Untuk memfasilitasi refleks defekasi
>  Nutrisi serat tinggi untuk melancarkan eliminasi fekal
>  Untuk melunakkan eliminasi feses dan mengeluarkannya



3.DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan
TUJUAN: menunjukkan status gizi baik

HASIL YANG DI HARAPKAN
> Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan
>  Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
>  Nilai laboratorium dalam batas normal
>  Melaporkan keadekuatan tingkat energi
 INTERVENSI
  • Buat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal makan.
  • Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah.
  • Tawarkan makanan porsi besar disiang hari ketika nafsu makan tinggi
  • Pastikan diet memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi.
  • Pastikan pola diet yang pasien yang disukai atau tidak disukai.
  • Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik.
  • Kaji turgor kulit pasien

RASIONAL
  • Menjaga pola makan pasien sehingga pasien makan secara teratur
  • Pasien merasa nyaman dengan makanan yang dibawa dari rumah dan dapat meningkatkan nafsu makan pasien.
  • Dengan pemberian porsi yang besar dapat menjaga keadekuatan nutrisi yang masuk.
  • Tinggi karbohidrat, protein, dan kalori diperlukan atau dibutuhkan selama perawatan.
  • Untuk mendukung peningkatan nafsu makan pasien
  • Mengetahui keseimbangan intake dan pengeluaran asuapan makanan
  • Sebagai data penunjang adanya perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kontipasi merupakan gejala,bukan penyakit.kontipasi adalah penurunan frekwensi defekasi,yang di ikuti pengeluaran feses yang lama atau keras atau kering.ada nya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan kontipasi.apabila motilitasusus halus melambat,masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar kandungan air dalam feses di absorsi.sejumlah kecik air di tinggalkan untuk melunakkan dan melumasi feses.pengeluaran feses yang kering dank eras dapat menimbulkanb nyeri pada rektum
B.     Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan diatas, maka penulis mengajukan beberapa saran untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan ganguan eliminasi fekal sebagai berikut :
1. Perlunya ditingkatkan dan dipertahankan komunikasi yang efektif antara klien, keluarga dan perawat agar terbina hubungan saling percaya dalam memberikan asuhan keperawatan sehingga perawat dapat mendapatkan data-data yang dibutuhkan.
2. Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan dipertahankan dan dilengkapi dengan respon klien agar asuhan keperawatan yang diberikan lebih efektif.


\

DAFTAR PUSTAKA

Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Fundamental Keperawatan (Edisi 4). Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Marilynn, D.E., dkk (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (Edisi 3). Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar